Archive for Juli 2008
Plurking in Heaven
Dua hari ini saya sedang suka plurking. Plurk ini sebenarnya adalah Sosial Networking Website dimana kita bisa nulis tentang kegiatan kita, nulis tentang barusan ngeliat apa, sekedar bertanya, curhat colongan, atau apa aja, di timeline. Hampir sama kaya blog, cuma dengan content yang lebih singkat (140 Character). Namun dengan pengisian konten yang singkat ini lah yang bikin plurk jadi gampang nyandunya.
Awalnya pasti bingung, aneh, dan terlihat bodoh kalo nulis di plurk. karena setiap posting akan ada kata-kata aksi seperti: pikir, berharap, telah, bilang, sedang, suka dll. Namun setelah posting beberapa kali ternyata lumayan mengasikkan.
Di Plurk kita juga bisa ngikutin timeline orang, kita bisa ngasi komentar, plus emoticonnya juga lucu (oh that dancing banana is so fuckin annoying, cuma kadang suka ketawa sendiri ngeliatnya). Trus ada sistem Karma, yang sampe sekarang pun ga ngerti gimana itungannya, cuma yang pasti kalo nilainya nambah, maka feature-feature lain di Plurk bakal kebuka.
Well i guess i should try and enjoy this new thing called plurk, sebelum jadi basi dan gag trendy lagi hehe.
Untitled 01
Come ‘ere baby
You know you drive me up the wall
The way you make good for all the nasty tricks you pull
Seems like we’re makin’ up more than we’re makin’ love
And it always seems you’ve got someone on your mind other than me
Girl, you gotta change your crazy ways – you hear me
Lagu itu mengalun pelan. Kutatap wajahnya dalam dalam. Bisa kulihat asap kelabu itu keluar dari bibirnya. Asap yang dia tahu pasti akan membunuhnya. Wajahnya terlihat menegang. Tidak biasanya dia seperti ini. Kerut kerut di dahinya yang biasanya tersenyum, kali ini terlihat begitu serius.
“Kenapa tidak kau katakan saja?”
“Tidak, biarkan saja begini. Aku sudah terbiasa dengan penyiksaan diri seperti ini”
Dia menatapku tanpa ekspresi. Di hembuskannya rokoknya kembali. Ku hela napas panjang, sambil mencoba menebak apa yang dipikirannya.
“Apa yang dia pikirkan? apa aku berbuat satu kesalahan? apa aku menyakitinya? atau memang dia yang terlalu rumit untuk dipahami? atau memang tidak cukup waktu untuk memahaminya? atau memang aku tidak mau untuk memahaminya? atau memang dia tidak mau dipahami? atau emang dia sama sekali tak bakal terpahami”
“Ayolah sayang, tidak-kah engkau mau berbagi dengan ku?
“Tidak!”
“Kenapa?”
“Kenapa aku harus berbagi dengan mu?”
“Lalu sampai kapan begini? kamu diam tidak akan menyelesaikan masalah!”
Dia cuma mengangkat bahu, lalu kembali membakar rokok. Ini batang ke-enambelas sejak aku datang. Dan aku tahu dia tidak akan berhenti sampai disitu. Aku tahu. Aku hapal kebiasaannya.
You’re packin’ up your stuff and talkin’ like it’s tough
and tryin’ to tell me that it’s time to go, yeah!
But I know you ain’t wearin’ nothin’ underneath that overcoat and that it’s all a show, yeah!
“Ok, sekarang mau kamu apa?” kataku padanya
“Tidak ada”
“Kamu juga tetap ga mau cerita?”
“Buat apa?”
“HEY! I’M YOURS DAMMIT! I HAVE A RIGHT TO KNOW WHATS ON YOUR MIND!?” Jeritku dengan suara meninggi.
Dia tertawa.
“You make me laugh with that funny lines. Hell yeah, one thing doesn’t change. You still funny like the first time i met you”
“Aku tidak sedang bercanda!” Kuturunkan sedikit nada suaraku.
“Aku pun begitu.” Jawabnya dengan nada datar.
Kutatap matanya, kucoba mencari tatapan yang dulu pernah menatapku dengan penuh cinta. Tatapan yang saat ini aku harapkan. Namun tak bisa kutemui. Hanya ada luka yang disana. Luka yang tak akan pernah bisa aku mengerti.
Crazy, crazy, crazy for you baby
I’m losin’ my mind,
Girl cause I’m going crazy
Crazy, crazy, crazy for you baby
You turn it on – then you’re gone
Yeah you drive me…
Listening to Aerosmith – crazy, and have this imaginary conversation while having a cold beer and a pack of starmild.
Lying
“If you tell the truth, you dont have to remember anything”, tiba-tiba saya teringat akan quote ini, entah kenapa. Kalo dipikir-pikir ada benarnya juga, karena kalo selalu jujur ngapain musti ingat apa yang di ucapkan kemaren, apa yang di tuliskan kemaren, toh kalopun di reconfirm lagi kita bakal jawab apa adanya.
Yang menjadi masalah, saya ini pelupa. Pasti selalu lupa. Bahkan saya lupa, kebohongan pertama yang saya lakukan (siapa juga yang ingat coba). And its make me a lousy liars. terkadang tanpa saya sadari saya selalu mengungkap sendiri kebohongan saya. Saya sadar itu, namun kesadaran ini tidak membuat saya menjadi orang jujur hehe. Saya berbohong, untuk hal hal yang menurut saya orang lain tidak perlu tahu. Alasannya simple “No one needed to know the truth. (What is the truth anyway?)”
Namun, menjadi pembohong ternyata tidak membuat saya toleran dengan sesama pembohong lain. I HATE LIARS. And fortunately because i’m a liars, i can recognize them very well. I know them exactly, how they act, how they do the trick, how they camouflage their lies, and somehow i know what kind of lies their trying to cover. Dan Ini lah keuntungannya menjadi pembohong. menyenangkan, walau kadang menyakitkan